Fatma aliasari
14514048
2PA07
kesehatan mental #
14514048
2PA07
kesehatan mental #
Pendahuluan
Agak sulit merumuskan secara tepat apa yang dimaksud dengan normal
dan abnormal tentang perilaku. Penyebabnya adalah sulit menemukan model orang
yang ideal atau sempurna dan tidak ada batas yang tegas antara perilaku normal
dan abnormal. Diperlukan sejumlah patokan atau ukuran untuk membedakan antara
normal dan abnormal. Pribadi yang normal pada umumnya memiliki mental yang
sehat, sedangkan pribadi yang abnormal biasanya memiliki mental yang tidak
sehat. Namun demikian, pada hakekatnya konsep mengenai normalitas dan
abnormalitas sangat samar-samar batasnya. Sebab pola kebiasaan dan sikap hidup
yang dirasakan normal oleh suatu kelompok tertentu, bisa dianggap abnormal oleh
kelompok lainnya. Akan tetapi apabila satu tingkah laku itu begitu mencolok dan
sangat berbeda dengan tingkah laku umum, maka kita akan menyebutnya sebagai
abnormal (Kartini Kartono, 2000 : 6-7).
Definisi
normal
Tidaklah mudah untuk menentukan suatu tingkah laku sebagai normal
atau abnormal. Normal menunjuk pada standar, sedangkan abnormal (ab = jauh dari) berarti jauh dari atau menyimpang
dari standar.
Menurut Werner
ada beberapa acuan yang digunakan untuk menentukan sesuatu sebagai normal atau
abnormal, yaitu:
1.
Normal = rata-rata
kebanyakan orang
Batasan ini
merupakan konsep statistik, dimana suatu tingkah laku dinyatakan normal bila
tingkah laku tersebut sama dengan tingkah laku kebanyakan orang dalam
kelompoknya.
2.
Normal =
sesuatu yang ideal
Normal dalam
definisi ini berarti sesuai dengan keadaan yang didambakan. Akan tetapi, normal
dalam acuan ini jarang tercapai karena sebenarnya setiap orang pasti mengalami “gangguan”,
tidak ada yang sempurna.
3.
Normal =
mampu menyesuaikan diri, mampu menyelesaikan permasalahan secara efektif, dapat
menghargai hubungan antar manusia, bekerja secara produktif untuk mengisi
hidupnya.
Abnormal bila
keadaan pikirian atau tingkah laku merusak kemampuan seseorang untuk sukses
dalam menghadapi tantangan dan kesempatan dalam hidupnya.
Tidak ada
batasan yang paling tepat dari ketiga batasan diatas, ketiganya diperlukan
sebagai titik awal untuk membedakan antara anak berkelainan atau tidak.
Teori
Psikologi abnormal kadang-kadang disebut juga psikopatologi. Dalam
bahasa
Inggris dinyatakan dengan istilah Abnormal Psychology. Apa yang dimaksud dengan psikologi abnormal?
Berikut dikemukakan beberapa definisi.
Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu
cabang
psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.
Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal
atau
psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau
hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.
Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal, pada Ensiklopedia Bebas
Wikipedia
(2009), dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield
of psychology involving the scientific study of abnormal experience and
behavior (as in neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain
incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand
and change abnormal patterns of functioning”.
Definisi psikologi abnormal juga dapat dijumpai di Merriem-Webster
OnLine
(2009). Pada kamus online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology : : a
branch of psychology concerned with mental and emotional disorders (as
neuroses, psychoses, and mental retardation) and with certain incompletely
understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)”
Normal
Menurut Stern (1964)
Stern mengusulkan untuk memperhatikan 4 aspek untuk menilai normal
atau tidaknya seseorang, yaitu:
a.
Daya integrasi
fungsi ego dalam mempersatukan, mengkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri.
fungsi ego dalam mempersatukan, mengkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri.
b.
Ada atau
tidaknya simtom gangguan
ditinjau dari segi praktis, merupakan pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa secara kualitatif. Ini dinamakan juga pendekatan medis.
ditinjau dari segi praktis, merupakan pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa secara kualitatif. Ini dinamakan juga pendekatan medis.
c.
Kriteria psikoanalisis
memperhatikan dua hal untuk dipakai sebagai patokan dari kesehatan jiwa, yaitu tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual. Makin tinggi tingkat kesadaran seseorang, makin baik atau sehat jiwanya.
memperhatikan dua hal untuk dipakai sebagai patokan dari kesehatan jiwa, yaitu tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual. Makin tinggi tingkat kesadaran seseorang, makin baik atau sehat jiwanya.
d.
Determinan sosio-kultural
lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak.
lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak.
Sesuai dengan
kriteria stern diatas, selama keadaan masih dapat diatasi dan tidak mengganggu,
maka masih dianggap normal meskipun tidak ideal.
Normal menurut
ulmann dan krasner (1980)
Menurut ulmann
dan krasner tingkah laku manusia tidak dapat dilihat secara dikotomis sebagai
normal atau abnormal, tetapi harus dilihat dalam hubungannya dengan suatu
prinsip, di mana suatu tingkah laku merupakan hasil dari keadaan masa lalu dan
masa kini. Ia mengemukakan kesulitan-kesulitan mendefinisikan
abnormalitas secara statistik, yakni untuk menyeleksi variabel-variabel
abnormalitas mana yang harus diukur, dan hal-hal yang penting untuk dijadikan
suatu kriteria mengenai abnormalitas tingkah laku.
Menurut
Ulmann & Kranser, selain definisi statistik, medis, dan psikoanalitis
secara sosiokultural terhadap abnormalitas, ada pula definisi legal (hukum)
tentang abnormalitas. Definisi ini menghubungkan tingkah laku manusia dengan kompetensi,
tanggung jawab atas perbuatan kriminal secara komitmen. Definisi ini digunakan untuk menentukan apakah
seseorang sudah harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa, penjara, institusi khusus
atau tidak.
Normal
menurut gladstone (1978)
Dalam
bukunya test your own mental health mnguraikan pegangan-pegangan praktis untuk
menilai kesehatan mental diri sendiri. Ia mengusulkan untuk menilai 7 aspek yang merupakan tingkah laku
penyesuaian diri (adaptability) yaitu: ketegangan, suasana hati, pemikiran,
kegiatan (aktivitas), organisasi diri, hubungan antarmanusia, dan keadaan
fisik.
Masing-msing aspek memiliki
kriteria tingkah laku yang dijadikan pegangan penilaian ‘normal’-nya
penyesuaian. Gladstone membaginya dalam 5 tingkatan, yaitu:
a.
Penyesuaian
diri yang normal
b.
Penyesuaian
darurat
c.
Penyesuaian
neurotik
d.
Keprbadian
atau karakter neurotik
e.
Gangguan
berat yang masing-masing diberi skor antara 10-50.
Analisis
Contoh kasus:
Ratna berusia 10 tahun seringkali mengeluhkan
akhir-akhir ini melihat seorang anak perempuan kecil yg mengikutinya ke mana
saja ia pergi. Ratna bahkan seringkali terlihat sedang bercakap-cakap dgn anak
kecil tsb. Anak kecil itu seringkali memberitahu Ratna akan situasi2 bahaya yg
akan dihadapi di depannya. Orangtua Ratna merasa takut dgn perilaku anaknya
tsb. Orangtua Ratna sangat berharap perilaku anaknya akan berubah. Keluarga
pernah membawa Ratna ke seorang Kyai dan beliau mengatakan bahwa Ratna memang memiliki
kemampuan ‘indera keenam’ sehingga dapat melakukan interaksi dgn makhluk gaib.
Pembahasan :
Secara awam kita pasti berpendapat bahwa Ratna ini
memiliki perilaku abnormal. Hal ini kita lihat dari masalah yang di alami oleh
Ratna, dimana di selalu merasa di ikuti oleh anak kecil kemana saja dia pergi.
Dia bisa berbicara sendiri tanpa ada lawan bicaranya yang secara kasat mata
tidak bisa dilihat oleh orang disekitarnya.
Namun bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan Ratna
? Apakah perilakunya normal atau abnormal ?
Mari kita gunakan pendekatan-pendekatan berikut ini
dalam menganalisanya.
a. Pendekatan Statistik
Pendekatan ini beranggapan
bahwa orang yang sehat secara mental/normal adalah orang yang melakukan tingkah
laku yang umumnya dilakukan oleh banyak orang lainnya. Atau dengan kata lain,
suatu tingkah laku disebut sehat bila tingkah laku tersebut memiliki frekuensi
kemunculan yang tinggi dalam populasi. Sebaliknya, orang yang bertingkah laku
tidak seperti tingkah laku kebanyakan orang dianggap sebagai orang yang tidak
normal atau tidak sehat.
Menurut pendekatan ini bisa
kita simpulkan bahwa Ratna memiliki perilaku abnormal, karena tingkah laku yang
dia lakukan tidak lazim dilakukan oleh kebanyakan orang.
b. Pendekatan Normatif
Pendekatan ini melihat orang
secara sehat mental apakah tingkah laku orang tersebut menyimpang dari norma
sosial yang berlaku dimasyarakat ataukah tidak. Tolak ukur yang dipakai dalam
pendekatan ini adalah norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
Menurut masyarakat umum,
perilaku yang ditampilkan oleh Ratna di luar batas logika manusia. Norma yang
berlaku dimasyarakat selalu memandang sesuatu berdasarkan sikap kepantasan dan
kewajaran.
c. Pendekatan Distress
Subjektif
Pendekatan ini beranggapan
orang dianggap normal atau sehat bila dia merasa sehat atau tidak ada persoalan
dan tekanan yang menggangunya.
Kelemahan pendekatan ini
adalah karena menekankan pada subjektifitas individu mengakibatkan tidak ada
ukuran yang pasti sehingga semuanya menjadi serba relatif. Tergantung situasi
yang dihadapi.
Menurut pendekatan ini,
perilaku yang ditampilkan bisa saja dianggap normal. Ketika dia berada dalam
lingkungan yang mengerti akan hal ghaib, orang tersebut bisa mengatakan bahwa
Ratna normal, karena dia memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang
lain, yaitu indera ke enam.
d. Pendekatan Fungsi/Peranan
Sosial
Pendekatan ini melihat
normal atau sehat tidaknya seseorang berdasarkan mampu atau tidaknya orang
tersebut menjalankan kegiatan hariannya. Orang dianggap sehat atau normal bila
dia mampu menjalankan fungsi dan peranannya dalam masyarakat dan tidak mengalami
gangguan dalam menjalankan tugas-tugas hariannya.
Bisa dikatakan bahwa Ratna
terganggu dengan "kelebihan" yang dia punya dalam menjalani
hari-harinya. Orang-orang terdekatnya juga terganggu dengan perilaku
"aneh" yang ditampilkan Ratna.
e. Pendekatan Interpersonal
Pendekatan ini melihat
normal atau sehat tidaknya seseorang atau apakah orang tersebut mampu
menyesuaikan diri dilihat berdasarkan kemampuan seseorang untuk menjalin
hubungan yang interpersonal dengan orang lain.
Ratna memiliki dunianya
sendiri yang membuat dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Dari uraian diatas, kita
bisa menarik kesimpulan bahwa secara garis besar dengan menggunakan beberapa
pendekatan, Ratna tergolong dalam perilaku abnormal. Abnormal disini bisa
dikatakan karena dia mempunyai "dunia sendiri" dan perilaku yang
ditampilkannya juga berbeda dari kebanyakan orang.
Daftar
pustaka
Indra Ratna
kusuma Wardani, Hand Out Psikologi Umum II, Fakultas Mercu Buana Yogyakarta
Lovitt, Thomas C. - . introduction to
learning dissability. New jersey: Prentice Hall.
Slamet,
Suprapti. Markam, Sumarmo. 2008. Psikologi
Klinis. Jakarta :
Penerbit Universitas Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar