Senin, 14 Maret 2016

Konsep Normal-Abnormal dalam Masyarakat



Fatma aliasari
14514048
2PA07
kesehatan mental #
Pendahuluan

Agak sulit merumuskan secara tepat apa yang dimaksud dengan normal dan abnormal tentang perilaku. Penyebabnya adalah sulit menemukan model orang yang ideal atau sempurna dan tidak ada batas yang tegas antara perilaku normal dan abnormal. Diperlukan sejumlah patokan atau ukuran untuk membedakan antara normal dan abnormal. Pribadi yang normal pada umumnya memiliki mental yang sehat, sedangkan pribadi yang abnormal biasanya memiliki mental yang tidak sehat. Namun demikian, pada hakekatnya konsep mengenai normalitas dan abnormalitas sangat samar-samar batasnya. Sebab pola kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan normal oleh suatu kelompok tertentu, bisa dianggap abnormal oleh kelompok lainnya. Akan tetapi apabila satu tingkah laku itu begitu mencolok dan sangat berbeda dengan tingkah laku umum, maka kita akan menyebutnya sebagai abnormal (Kartini Kartono, 2000 : 6-7). 
Definisi normal
Tidaklah mudah untuk menentukan suatu tingkah laku sebagai normal atau abnormal. Normal menunjuk pada standar, sedangkan abnormal (ab =  jauh dari) berarti jauh dari atau menyimpang dari standar.
Menurut Werner ada beberapa acuan yang digunakan untuk menentukan sesuatu sebagai normal atau abnormal, yaitu:
1.      Normal = rata-rata kebanyakan orang
Batasan ini merupakan konsep statistik, dimana suatu tingkah laku dinyatakan normal bila tingkah laku tersebut sama dengan tingkah laku kebanyakan orang dalam kelompoknya.
2.      Normal = sesuatu yang ideal
Normal dalam definisi ini berarti sesuai dengan keadaan yang didambakan. Akan tetapi, normal dalam acuan ini jarang tercapai karena sebenarnya setiap orang pasti mengalami “gangguan”, tidak ada yang sempurna.
3.      Normal = mampu menyesuaikan diri, mampu menyelesaikan permasalahan secara efektif, dapat menghargai hubungan antar manusia, bekerja secara produktif untuk mengisi hidupnya.

Abnormal bila keadaan pikirian atau tingkah laku merusak kemampuan seseorang untuk sukses dalam menghadapi tantangan dan kesempatan dalam hidupnya.
Tidak ada batasan yang paling tepat dari ketiga batasan diatas, ketiganya diperlukan sebagai titik awal untuk membedakan antara anak berkelainan atau tidak.

Teori

Psikologi abnormal kadang-kadang disebut juga psikopatologi. Dalam
bahasa Inggris dinyatakan dengan istilah Abnormal Psychology.  Apa yang dimaksud dengan psikologi abnormal? Berikut dikemukakan beberapa definisi.
Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu
cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.
Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal
atau psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.
Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal, pada Ensiklopedia Bebas
Wikipedia (2009), dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”.
Definisi psikologi abnormal juga dapat dijumpai di Merriem-Webster
OnLine (2009). Pada kamus online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology : : a branch of psychology concerned with mental and emotional disorders (as neuroses, psychoses, and mental retardation) and with certain incompletely understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)”

Normal Menurut Stern (1964)

Stern mengusulkan untuk memperhatikan 4 aspek untuk menilai normal atau tidaknya seseorang, yaitu:
a.       Daya integrasi
fungsi ego dalam mempersatukan, mengkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri.
b.      Ada atau tidaknya simtom gangguan
ditinjau dari segi praktis, merupakan pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa secara kualitatif. Ini dinamakan juga pendekatan medis.
c.       Kriteria psikoanalisis
memperhatikan dua hal untuk dipakai sebagai patokan dari kesehatan jiwa, yaitu tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual. Makin tinggi tingkat kesadaran seseorang, makin baik atau sehat jiwanya.
d.      Determinan sosio-kultural
lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak.

Sesuai dengan kriteria stern diatas, selama keadaan masih dapat diatasi dan tidak mengganggu, maka masih dianggap normal meskipun tidak ideal.

Normal menurut ulmann dan krasner (1980)

Menurut ulmann dan krasner tingkah laku manusia tidak dapat dilihat secara dikotomis sebagai normal atau abnormal, tetapi harus dilihat dalam hubungannya dengan suatu prinsip, di mana suatu tingkah laku merupakan hasil dari keadaan masa lalu dan masa kini.  Ia mengemukakan kesulitan-kesulitan mendefinisikan abnormalitas secara statistik, yakni untuk menyeleksi variabel-variabel abnormalitas mana yang harus diukur, dan hal-hal yang penting untuk dijadikan suatu kriteria mengenai abnormalitas tingkah laku.
Menurut Ulmann & Kranser, selain definisi statistik, medis, dan psikoanalitis secara sosiokultural terhadap abnormalitas, ada pula definisi legal (hukum) tentang abnormalitas. Definisi ini menghubungkan tingkah laku manusia dengan kompetensi, tanggung jawab atas perbuatan kriminal secara komitmen. Definisi ini digunakan untuk menentukan apakah seseorang sudah harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa, penjara, institusi khusus atau tidak.

Normal menurut gladstone (1978)

Dalam bukunya test your own mental health mnguraikan pegangan-pegangan praktis untuk menilai kesehatan mental diri sendiri. Ia mengusulkan untuk menilai  7 aspek yang merupakan tingkah laku penyesuaian diri (adaptability) yaitu: ketegangan, suasana hati, pemikiran, kegiatan (aktivitas), organisasi diri, hubungan antarmanusia, dan keadaan fisik.
Masing-msing aspek memiliki kriteria tingkah laku yang dijadikan pegangan penilaian ‘normal’-nya penyesuaian. Gladstone membaginya dalam 5 tingkatan, yaitu:
a.       Penyesuaian diri yang normal
b.      Penyesuaian darurat
c.       Penyesuaian neurotik
d.      Keprbadian atau karakter neurotik
e.       Gangguan berat yang masing-masing diberi skor antara 10-50.


Analisis

Contoh kasus:
Ratna berusia 10 tahun seringkali mengeluhkan akhir-akhir ini melihat seorang anak perempuan kecil yg mengikutinya ke mana saja ia pergi. Ratna bahkan seringkali terlihat sedang bercakap-cakap dgn anak kecil tsb. Anak kecil itu seringkali memberitahu Ratna akan situasi2 bahaya yg akan dihadapi di depannya. Orangtua Ratna merasa takut dgn perilaku anaknya tsb. Orangtua Ratna sangat berharap perilaku anaknya akan berubah. Keluarga pernah membawa Ratna ke seorang Kyai dan beliau mengatakan bahwa Ratna memang memiliki kemampuan ‘indera keenam’ sehingga dapat melakukan interaksi dgn makhluk gaib.


Pembahasan : 
Secara awam kita pasti berpendapat bahwa Ratna ini memiliki perilaku abnormal. Hal ini kita lihat dari masalah yang di alami oleh Ratna, dimana di selalu merasa di ikuti oleh anak kecil kemana saja dia pergi. Dia bisa berbicara sendiri tanpa ada lawan bicaranya yang secara kasat mata tidak bisa dilihat oleh orang disekitarnya.

Namun bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan Ratna ? Apakah perilakunya normal atau abnormal ?
Mari kita gunakan pendekatan-pendekatan berikut ini dalam menganalisanya. 

a. Pendekatan Statistik
Pendekatan ini beranggapan bahwa orang yang sehat secara mental/normal adalah orang yang melakukan tingkah laku yang umumnya dilakukan oleh banyak orang lainnya. Atau dengan kata lain, suatu tingkah laku disebut sehat bila tingkah laku tersebut memiliki frekuensi kemunculan yang tinggi dalam populasi. Sebaliknya, orang yang bertingkah laku tidak seperti tingkah laku kebanyakan orang dianggap sebagai orang yang tidak normal atau tidak sehat.
Menurut pendekatan ini bisa kita simpulkan bahwa Ratna memiliki perilaku abnormal, karena tingkah laku yang dia lakukan tidak lazim dilakukan oleh kebanyakan orang.

b. Pendekatan Normatif
Pendekatan ini melihat orang secara sehat mental apakah tingkah laku orang tersebut menyimpang dari norma sosial yang berlaku dimasyarakat ataukah tidak. Tolak ukur yang dipakai dalam pendekatan ini adalah norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
Menurut masyarakat umum, perilaku yang ditampilkan oleh Ratna di luar batas logika manusia. Norma yang berlaku dimasyarakat selalu memandang sesuatu berdasarkan sikap kepantasan dan kewajaran.

c. Pendekatan Distress Subjektif
Pendekatan ini beranggapan orang dianggap normal atau sehat bila dia merasa sehat atau tidak ada persoalan dan tekanan yang menggangunya.
Kelemahan pendekatan ini adalah karena menekankan pada subjektifitas individu mengakibatkan tidak ada ukuran yang pasti sehingga semuanya menjadi serba relatif. Tergantung situasi yang dihadapi.
Menurut pendekatan ini, perilaku yang ditampilkan bisa saja dianggap normal. Ketika dia berada dalam lingkungan yang mengerti akan hal ghaib, orang tersebut bisa mengatakan bahwa Ratna normal, karena dia memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain, yaitu indera ke enam.

d. Pendekatan Fungsi/Peranan Sosial
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang berdasarkan mampu atau tidaknya orang tersebut menjalankan kegiatan hariannya. Orang dianggap sehat atau normal bila dia mampu menjalankan fungsi dan peranannya dalam masyarakat dan tidak mengalami gangguan dalam menjalankan tugas-tugas hariannya.
Bisa dikatakan bahwa Ratna terganggu dengan "kelebihan" yang dia punya dalam menjalani hari-harinya. Orang-orang terdekatnya juga terganggu dengan perilaku "aneh" yang ditampilkan Ratna.

e. Pendekatan Interpersonal
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang atau apakah orang tersebut mampu menyesuaikan diri dilihat berdasarkan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang interpersonal dengan orang lain.
Ratna memiliki dunianya sendiri yang membuat dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Dari uraian diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa secara garis besar dengan menggunakan beberapa pendekatan, Ratna tergolong dalam perilaku abnormal. Abnormal disini bisa dikatakan karena dia mempunyai "dunia sendiri" dan perilaku yang ditampilkannya juga berbeda dari kebanyakan orang.


Daftar pustaka

Indra Ratna kusuma Wardani, Hand Out Psikologi Umum II, Fakultas Mercu Buana Yogyakarta
Lovitt, Thomas C. - . introduction to learning dissability. New jersey: Prentice Hall.
Slamet, Suprapti. Markam, Sumarmo. 2008. Psikologi Klinis. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar